google8e706b55941b4797.html More Than Geography: Metode Pengukuran erosi Tanah

Jumat, 22 April 2011

Metode Pengukuran erosi Tanah

Metode pemodelan erosi sudah berkembang dengan baik hingga saat ini dan dari waktu ke waktu selalu dilakukan revisi ataupun modifikasi untuk memperoleh hasil prediksi yang realistis dan mendekati kondisi aktual di lapangan. Dari sekian pemodelan erosi tanah pasti memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing sesuai dengan lokasi kajian. Penerapan sebuah pemodelan erosi di suatu daerah harus mempertimbangkan berbagai aspek, antara lain ketersediaan data serta  kesesuaian model dengan kondisi fisik daerah kajian.. Hasil dari pemodelan tentunya diperlukan sebuah validasi ataupun pembanding dengan laju erosi sesungguhnya yang terjadi di lapangan. Dengan demikian, adanya suatu metode pengukuran erosi tanah di lapangan menjadi penting untuk dipelajari.


            Metode pengukuran erosi di lapangan secara langsung di lapangan juga dapat digunakan sebagai perkiraan awal tingkat erosi pada suatu daerah dalam waktu tertentu. Keuntungan utama dari metode sidik cepat ini adalah karena murah dalam biaya serta sederhana, dapat dilakukan dalam jumlah yang banyak dengan dengan demikian hasilnya pun dapat lebih meyakinkan (Hudson, 1993). Peralatan ataupun bahan yang dibutuhkan pun relatif mudah didapat dan sederhana. Metode pengukuran erosi lapangan ini sangat bermanfaat untuk memberikan gambaran proses erosi yang terjadi pada petani/pemilik lahan, karena sifat dari metode ini yang mudah dipahami. Alternatif pengukuran erosi yang dapat digunakan terdiri dari:

Pengukuran-pengukuran titik (point measurements)

1. Erosion pins
Metode yang paling sering dipakai ini terdiri dari pin yang ditancapkan (dapat berupa jeruji, bambu, kayu, ataupun besi) ke permukaan tanah. Prinsip kerja dari metode ini adalah membaca perubahan permukaan tanah dari ketinggian semula, dapat berupa pengurangan berarti terjadi erosi ataupun berupa penambahan berarti terdapat penambahan material (sedimentasi).
 
      Gambar 1. Erosion pin (Hudson, 1993)
2. Paint collars (tanda garis berwarna)
Sebuah indikator perubahan kedalaman yang intensif, misalnya pada dasar saluran atau dasar gully. Metode ini sangat sederhana hanya dengan memberikan tanda garis dengan cat (warna cerah/mudah dilihat) yang tidak larut dalam air pada sekeliling batuan, boulder, akar tanaman, ataupun bangunan yang bersifat stabil.
3. Bottle tops
Contoh lain yang sederhana dalam merekam ketinggian awal dari tanah hanya dengan cara menancapkan ujung atas dari botol ke permukaan tanah. Ketika terjadi proses erosi, tanah di dalam botol dapat menjadi pembanding seberapa dalam telah terjadi kehilangan tanah di titik tersebut. 

4. Profile meters
Alat yang dibuat sedemikian rupa sehingga dapat menggambarkan penampang melintang perubahan pernukaan tanah (dapat berupa pengurangan ataupun penambahan permukaan tanah akibat erosi dan sedimentasi). 
Gambar 2. Profile meters (Hudson, 1993)


Pengukuran volumetrik
Prinsip dasar dari metode ini adalah mengukur kehilangan tanah berdasarkan pengukuran tiga dimensi dari volume.
 
Gambar 3. Rangkaian erosion pins yang disusun membentuk grid untuk pengukuran erosi rill/gully

Gambar 4. Perhitungan penampang melintang dari gully (Hudson, 1993)

Stocking dan Murnaghan (2001) juga memberikan metode pengukuran kehilangan tanah di lapangan berdasar bukti-bukti erosi di lapangan. Metode pengukuran ini telah digunakan Setiawan (2007) sebagai data pembanding hasil pemodelan erosi dengan RMMF (Rivised Morgan- Morgan Finney), hasil yang diperoleh pun cukup realistis dan dapat diterima. Perhitungan erosi di lapangan ini harus didukung oleh data bulk density tanah (ton/m3).

1 komentar:

sky wolf'z mengatakan...

metode Stocking dan Murnaghan seperti apa?
perlu bgtz nie gan...
tlg d'reply ya...

Poskan Komentar

mohon kritik dan saran yang membangun