google8e706b55941b4797.html More Than Geography: kpj
Tampilkan postingan dengan label kpj. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kpj. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 September 2011

Menghitung Luas Dan Volume Genangan

Seperti kita ketahui bahwa peta mencerminkan berbagai tipe informasi dari unsur muka bumi maupun yang ada kaitannya dengan muka bumi. Unsur geografis yang digambarkan dalam peta dapat dikelompokkan menjadi :
1)            Posisional, yaitu unsur-unsur yang tidak mempunyai dimensi atau perluasan, misalnya titik ketinggian, sumur pengeboran, pusat pelayanan, dll. Nilai dari unsur-unsur ini dapat dilihat angka yang ada atau dihitung dengan menjumlahkan titiknya.
2)            Linier , yaitu unsur yang mempunyai perluasan pada satu sisi atau unsur dimensi satu, misalnya jalan, sungai, garis pantai. Untuk data linier ini nilai tergantung panjang pendek unsur yang digambarkan.
3)            Luasan, yaitu unsur yang mempunyai bentuk perluasan atau yang berdimensi dua dan nilai ditentukan berdasarkan luasnya, bahkan unsur yang berdimensi tiga dapat ditentukan volumenya misalnya volume waduk, volume cadangan bahan galian, dan sebagainya.
         Meskipun demikian, perlu diingat karena peta selalu menggunakan salah satu sistem proyeksi, maka hasil perhitungan melalui peta tidak akan sama / tepat dengan hasil pengukuran / perhitungan di permukaan bumi, kecuali peta tersebut digambar dengan sistem proyeksi sama luas (equal area projection) dan peta tersebut dibuat dengan skala besar.
         Beberapa cara dipakai untuk menghitung luas. Apabila bangun dari luasan yang akan diukur teratur, misalnyanberbentuk segitiga, segiempat, trapesium atau bujur sangkar maka kita tinggal mengukur panjang sisi-sisi bangun yang bersangkutan dan dimasukkan ke dalam rumusan luas, tetapi apabila bentuk wilatah yang akan diukur tersebut tidak teratur maka luas wilayah dapat diukur dengan cara :
a)Pembuatan kisi atau kotak (cara segiempat / square method)
b)      Pembuatan garis potong (cara jalur / stripped method)
c)Cara segitiga (triangle method)
d)     Dengan alat pengukur luas (planimeter)
Sedangkan volume / isi dapat dihitung pada peta berdasarkan luas dan kedalaman, dan kedalaman dapat dihitung dari ketinggian yang digambarkan oleh garis kontur.

Representasi Relief pada Peta

         Secara sederhana relief dapat diartikan sebagai suatu konfigurasi nyata dari permukaan bumi, yaitu perbedaan-perbedaan dalam ketinggian dan kemiringan permukaan bumi. Relief dipresentasikan dengan cara membuat garis yang menghubungkan titik di permukaan bumi yang mempunyai ketinggian yang sama (garis tersebut di sebut garis kontur), dan cara demikian disebut juga dengan contouring. Pembuatan garis kontur pada prinsipnya dilakukan secara logika yaitu dengan cara interpolasi terhadap titik-titik hasil pengukuran di lapangan (karena tidak mungkin semua titik di lapangan kita lakukan pengukuran secara langsung ketinggiannya). Interpolasi itu sendiri di bagi menjadi dua yaitu interpolasi linier (cara interpolasi garis kontur mempergunakan hitungan pada garis) dan interpolasi secara grafis (membagi garis menggunakan garis lain dengan ukuran lebih mudah lalu di garis dengan mempergunakan prinsip garis sejajar untuk mendapatkan ukuran yang sebanding). Beberapa kegunaan dari garis kontur adalah untuk mengetahui bentuk lereng, besarnya kemiringan lereng dan menunjukkan bentuk relief. Garis kontur yang rapat menunjukkan bentuk lereng yang terjal dan garis kontur yang renggang menunjukkan bentuk lereng yang terjal atau curam dan sebaliknya.

         Agar kesan tiga dimensi muncul dalam dalam merepresentasikan relief suatu kenampakan (dengan garis kontur hanya timbul kesan dua dimensi), maka dipakailah cara hill shading, layer shading dan blok diagram. Prinsip pembuatan hill shading adalah memberi bayangan pada suatu gambaran relief pada garis kontur, sedangkan layer shading menggunakan prinsip skala warna untuk mencerminkan ketinggian.

Macam Proyeksi Peta

    Secara sederhana proyeksi peta dapat di artikansebagai cara pemindahan garis-garis parallel dan meridian dari globe (bidang lengkung) ke bidang datar. Oleh karena bidang yang di proyeksikan merupakan bidang lengkung, maka setiap sistem proyeksi selalu mengalami distorsi. Untuk memperkecil distorsi (penyimpangan) maka salah satu cara yang digunakan adalah dengan dipergunakannya bidang-bidang yang kalau didatarkan tidak mengalami distorsi selanjutnya, seperti bidang kerucut, silinder.

         Proyeksi peta dapat di golongkan atas beberapa dasar, yaitu :
1.      Berdasarkan garis karakteristik / kedudukan sumbu simetri :
a.       Proyeksi Normal : sumbu simetri berimpit dengan sumbu bumi.
b.      Proyeksi Transversal : sumbu simetri tegak lurus dengan sumbu bumi atau terletak pada bidang equator
c.       Proyeksi miring (Oblique) : sumbu simetri membentuk sudut terhadap sumbu bumi
2.      Berdasarkan kesalahan / distorsi / sifat yang diperlihatkan :
a.       Proyeksi Equivalent : luas daerah di pertahankan
b.      Proyeksi Equidistant : jarak pada peta dipertahankan
c.       Proyeksi ConForm : bentuk pada peta dipertahankan
3.      Berdasarkan konstruksinya :
a.       Proyeksi perspektif   :    proyeksi yang konstruksinya memang bersifat matematis, jadisama dengan proyeksi dalam arti umumnya.
b.      Proyeksi Non Perspektif : proyeksi yang tidak bersifat perspektif tetapi merupakan modifikasi dari proyeksi perspektif
4.      Berdasarkan bidang proyeksi :
a.          Proyeksi Zenithal / Azimuthal : bidang proyeksi berupa bidang datar yang menyinggung bola pada kutub, equator atau di sembarang tempat. Pada proyeksi ini di bedakan lagi atas titik sumber penyinaran yaitu:
i.            Gnomonis : arah sinar dari pusat bumi
ii.          Stereografis : arah sinar dari kutub yang berlawanan dengan titik singgung proyeksi
iii.        Orthografis : arah sinar dari titik jauh tak terhingga
b.      Proyeksi Cylindrical (Silinder) : parallel merupakan garis lurus horizontal dan semua meridian berupa garis-gari lurus vertical
c.       Proyeksi Conoc (Kerucut) : proyeksi kerucut yang normal mempunyai parallel yang melingkar dan meridian berupa garis lurus yang radial (baik terutama untuk Negara-negara di lintang tengah)

Pengertian Skala Peta

 
Skala peta dapat diartikan sebagai a) perbandingan jarak antara dua titik sembarang di peta dengan jarak horizontal kedua titik tersebut di permukaan bumi (dengan satuan ukuran yang sama), dan b) perbandingan antara jari-jari globe dengan jari-jari bumi (spheroid).
Beberapa cara/ metode dalam menyatakan skala :
1.      Skala angka/ skala pecahan (numerical scale)
Yaitu skala yang ditulis dengan angka/ pecahan.Skala ini mempunyai kelebihan dapat langsung dibaca oleh para pemakai peta. Sedangkan kelemahannya, tidak dapat mengontrol kebenaran skala suatu peta yang telah mengalami perubahan baik karena cuaca atau karena perubahan akibat pencetakan peta (perbesaran/ pengecilan).
Contoh : skala angka ( numerical scale ) yaitu 1  :  100.000
               skala  pecahan ( representative scale ) yaitu 1/ 100.000
Hal ini menunjukkan bahwa satu satuan jarak pada peta mewakili 100.000 satuan jarak horizontal di lapangan /permukaan bumi. Ini berarti bahwa 1 cm di peta mewakili 100.000 cm di lapangan atau
1 inchi mewakili 100.000 atau 100.000/ 63.360 mile.
            2.   Skala Grafik ( graphical scale line )
yaitu skala yang ditunjukkan oleh garis lurus yang dibagi-bagi menjadi satuan yang sama panjang, tiap-tiap unit/satuan menunjukkan panjang yang sebanding di lapangan. Skala ini juga mempunyai kelebihan yaitu ikut berubah ( mengembang/ menciut ) sesuai dengan perubahan bahan dasar peta yang bersangkutan sehingga dapat mengontrol ketelitian skala suatu peta walaupun sudah diperkecil/ diperbesar. Sedangkan kelemahannya, sulit dimengerti secara langsung oleh para pemakai peta.
2.      Skala verbal ( verbal scale )
Yaitu skala yang dinyatakan dengan kalimat. Pada peta-peta yang tidak menggunakan satuan pengukuran metrik ( misalnya pet-peta di Inggris), pernyataan skala dengan kalimat sering dilakukan.
Contoh : one inch to one mile       =          1   :  63.360

Definisi Kartografi

Kartografi adalah seni, ilmu pengetahuan dan teknologi tentang pembuatan peta-peta,sekaligus mencakup studinya sebagai dokumen-dokumen ilmiah dan hasil karya seni (ICA, 1973). Dalam konteks ini peta dianggap termasuk semua tipe peta , plan (peta skala besar), charts, bentuk tiga dimensional dan globe yang menyajikan model bumi atau sebuah benda angkasa pada skala tertentu . Peta itu sendiri menurut ICA (1973) adalah suatu representasi /gambaran unsure-unsur atau kenampakan-kenampakan abstrak , atau yang ada kaitannya dengan permukaan bumi atau benda-benda angkasa, dan umumnya digambarkan.

Senin, 19 September 2011

PEMETAAN KOEFISIEN ALIRAN METODE COOK DAN PERHITUNGAN DEBIT PUNCAK



            I.        TUJUAN
·         Praktikan mampu membuat peta koefisien aliran, dengan melakukan scoring beberapa variable penentu koefisien aliran dengan metode Cook.
·         Menghitung debit puncak DAS kajian.

              II.    TINJAUAN PUSTAKA
Setiap hujan yang jatuh di permukaan Daerah Aliran Sungai (DAS), sebagian air yang tercurah akan meresap ke dalam tanah dan selebihnya akan mengalir menjadi aliran permukaan. Kondisi fisik DAS sangat berpengaruh pada aliran permukaan DAS tersebut, seperti topografi, geologi, tanah, dan penggunaan lahan. Karakteristik lingkungan fisik DAS mempengaruhi respon hidrologi DAS dan sebaliknya respon hidrologi DAS tergantung pada karakteristik lingkungan fisiknya (Linsley et al. 1958, 1975 dalam Totok Gunawan, 1991).
Pendugaan debit puncak suatu DAS dapat dilakukan dengan beberapa metode. Salah satunya dengan metode rasional dimana metode ini mempertimbangkan kondisi fisik lingkungan DAS dimana kondisi fisik ini dibatasi oleh igir – igir bukit. Debit aliran DAS sendiri merupakan volume air yang mengalir melalui panampang melintang sungai (dalam hal ini sungai dalam suatu DAS tertentu) dan saluran dalam satuan waktu.
Parameter penentu debit puncak dengan metode rasional yaitu koefisien aliran yang mempertimbangkan aliran permukaan dan curah hujan, intensitas air hujan, dan luasan total DAS. Koefisien aliran diketahui pada unit analisis satuan lahan yang tersusun atas lereng, bentuklahan, dan penggunaan lahan.


             III.    CARA KERJA
1.    Menyiapkan peta kelas kemiringan lereng, peta bentuklahan dan peta penggunaan lahan yang telah dibuat pada acara sebelumnya. Memberi skor masing – masing peta
2.    Menumpangsusunkan (overlay) ketiga peta tersebut dan mendeleniasi kembali poligon – poligon yang terbentuk. Poligon tersebut merupakan satuan lahan untuk pemetaan koefisien aliran.
3.    Mencari luasan tiap satuan lahan.
4.    Mencatat nama – nama satuan lahan yang merupakan gabungan dari tiga peta yang telah disiapkan tadi ke dalam sebuah tabel beserta skor masing – masing.
5.    Setelah semua satuan lahan diberi nilai skor untuk keseluruhan variabel, kemudian menjumlahkan nilai skor tersebut menjadi total skor.
6.    Mengalikan masing – masing total skor setiap satuan lahan dengan faktor pembobot setiap satuan lahan.
7.    Menjumlahkan kolom faktor pembobot x total skor. Nilai yang diperoleh merupakan koefisien aliran rerata DAS tersebut.
8.    Menghitung debit puncak DAS dengan rumus,
Qp = 0,278 x C x l x A
Keterangan : Qp : debit puncak (m2/s)
                      C   : koefisien aliran hasil estimasi metode Cook
                      I    : intensitas hujan (mm/jam)
                      A  : luas total DAS (km2)

PEMBUATAN PETA KEMIRINGAN LERENG UNTUK PENGINDERAAN JAUH HIDROSFER DAN ATMOSFER


PENGINDERAAN JAUH
UNTUK HIDROSFER DAN ATMOSFER

PEMBUATAN PETA KEMIRINGAN LERENG


I.              TUJUAN
Mahasiswa dapat melakukan pemetaan kemiringan lereng.

II.            ALAT DAN BAHAN
1.   Citra Aster wilayah Jogjakarta
2.   Peta kontur
3.   Software Arcgiss 9.3
4.   Alat tulis

III.           DASAR TEORI
Kemiringan lereng dijadikan salah satu parameter yang menyusun peta satuan lahan, disebabkan parameter ini memiliki peran yang cukup besar pada berbagai proses hidrologi permukaan. Salah satu peran parameter lereng dalam proses hidrologi adalah proses terjadinya aliran Horton (Hortonian Overflow) pada lahan terbuka.
Terdapat banyak cara untuk membuat peta lereng diantaranya adalah dengan interpretasi kemiringan lereng dari foto udara menggunakan slope meter, perhitungan kemiringan lereng melalui kontur pada peta topografi, hingga menggunakan model elevasi digital (digital elevation model). Diantara metode-metode tersebut dalam praktikum ini digunakan metode pembuatan kontur dari peta topografi.
Peta topografi memberikan informasi tentang morfologi permukaan bumi yang digambarkan dengan garis kontur. Kemiringan lereng merupakan salah satu pembentuk satuan lahan yang dapat dihitung dengan menggunakan kontur. Semakin rapat kontur maka semakin terjal lereng, dan sebaliknya semakin jarang kontur, maka lereng semakin landai.

INTERPRETASI PENGGUNAAN LAHAN

PENGINDERAAN JAUH
UNTUK HIDROSFER DAN ATMOSFER


INTERPRETASI PENGGUNAAN LAHAN


I.              TUJUAN
Mahasiswa dapat melakukan melakukan interpretasi penggunaan lahan yang terkait dengan proses hidrologi permukaan dan bawah permukaan.

II.            ALAT DAN BAHAN
1.    Citra Aster VNIR DIY daerah Imogiri
2.    Peta RBI
3.    Arcgis 9.3
4.    Komputer

III.           DASAR TEORI
Untuk mengestimasi koefisien aliran dengan metode cocok diperlukan informasi mengenai penutup lahan pada DAS yang dikaji. Faktor penutup lahan berperan sebagai penghambat atau mempercepat (tergantung pada kondisi penutup lahan) aliran permukaan. Dalam praktikum ini interpretasi penggunaan lahan dilakukan sebagai pendekatan untuk menentukan kondisi kekasaran permukaan atau presentase penutup lahan.
Hidrologi merupakan bagian dari studi yang mempelajari gerakan dan penyebaran air dari berbagai tahap dari siklus hidrologi. Dalam mempelajari hidrologi biasanya menggunakan Daerah Aliran Sungai (DAS) sebagai satuan kajiannya. DAS sendiri sebagai suatu wilayah kesatuan yang dibatasi igir-igir gunung, hujan yang jatuh di atasnya diterima oleh sungai atau sistem sungai dan dialirkan melalui suatu outlet tunggal. Oleh karena itu, selain merupakan suatu kesatuan wilayah bentanglahan dan kesatuan wilayah ekosistem, DAS juga merupakan suatu kesatuan wilayah hidrologi.
Pemanfaatan teknik penginderaan jauh untuk hidrologi pada dasarnya akan meringankan pekerjaan, biaya dan tenaga yang dikeluarkan jika dilakukan secara terestris. Namun demikian, perlu diperhatikan segala keterbatasan dari citra itu sendiri jika digunakan untuk menggali informasi parameter-parameter hidrologi baik dalam hal karakteristik citra (misal : skala, jenis citra, dll) maupun dalam hal keterbatasan metodologinya. Oleh karena itu, pemanfaatan citra untuk hidrologi biasanya menggunakan pendekatan-pendekatan untuk menjelaskan hubungan antara variabel-variabel lahan yang dapat dikaitkan dengan proses-proses hidrologi.

PEMBUATAN PETA SATUAN LAHAN: INTERPRETASI BENTUKLAHAN DAN ALIRAN SUNGAI



I.      TUJUAN:
Melatih praktikan interpretasi bentang lahan terpilih (Landscape Features) yang terkait dengan proses hidrologi permukaan dan bawah permukaan

II.      BAHAN DAN ALAT
a.       Citra Aster VNIR DIY daerah Imogiri
b.      Peta RBI
c.       Arcgis 9.3
d.      Komputer

III.      DASAR TEORI
Menurut Gunawan (1992) interpretasi citra pada penginderaan jauh terapan untuk studi hidrologi diarahkan untuk menduga hubungan atau interaksi antara ‘Landscape Features’ (karakteristik bentang lahan) dengan proses-proses hidrologi. Penggunaan citra penginderaan jauh untuk pemetaan hidrologi permukaan, cukup didekati dengan mendasarkan pada elemen-elemen lahan dan karakteristik citra. Sedangkan untuk survei dan pemetaan hidrologi dibawah permukaan diperlukan pendekatan-pendekatan yang sesuai dengan komponen-komponen atau faktor-faktor yang mempengaruhi.
Keuntungan utama dari interpretasi foto udara adalah banyak elemen-elemen yang dapat diperoleh dan dipelajarai dan dikaitkan satu sama lain. Namun demikian untuk memperoleh informasi hidrologi dari foto udara diperlukan data bantu dari informasi lain sehingga sifatnya multidisipliner.
Kondisi bentuklahan pada suatu DAS sangat berpengaruh terhadap respons DAS tersebut terhadap hujan sehingga berpengaruh terhadap proses-proses transformasi dari hujan menjadi aliran permukaan. Disamping bentuklahan yang ada berbagai parameter penciri / atribut sebagai atribut dari bentuklahan juga penting untuk diidentifikasi. Parameter penciri / atribut bentang lahan, dipilih yang tekait langsung atau relevan dengan proses hidrologi, nantinya diharapkan akan berguna dalam melakukan pendekatan terhadap proses hidrologi bawah permukaan (infiltrasi, dll)
Penggunaan stereoskop untuk interpretasi foto udara yang bertampaan, sangat membantu dalam mengidentifikasi bentuklahan. Kesan tiga dimensional yang diperoleh mempermudah pengamatan beda tinggi suatu daerah sehingga daerah yang datar, bergelombang atau pegunungan dapat diidentifikasi dengan lebih jelas oleh penafsir. Demikian juga pola-pola lembah atau sungai akan terlihat lebih jelas.

PENGENALAN ASPEK-ASPEK MORFOMETRI DAS



I.             TUJUAN
Melatih mahasiswa untuk dapat:
- memanfaatkan citra satelit untuk dapat menyadap informasi aspek-aspek morfometri DAS.
- menganalisis dan mengkaitkan hubungan antara morfometri dengan proses hidrologi DAS.

II.          BAHAN DAN ALAT
1.      Citra Aster Wilayah Imogiri
2.      Data kontur
3.      Software Arcgis
4.      Komputer
5.      Milimeter blok
6.      Benang dan mistar
7.      Alat tulis

III.        DASAR TEORI
Penginderaan jauh dapat dimanfaatkan untuk mempelajari aspek-aspek hidrologi. Keunggulan dari citra satelit dapat digunakan untuk mengetahui aspek-aspek  dari hidrologi tersebut. Pada umunya aspek yang sering dipelajari adalah mempelajari Daerah Aliran Sungai (DAS). DAS adalah darah yang meliputi area yang berada di antara lembah yang dibatasi oleh igir-igir gunung. Pada area tersebut aliran sungai bersumber dari mata air maupun air hujan yang jatuh dan menuruni lereng-lereng pada area DAS tersebut. Aliran air tersebut diterima oleh sistem sungai dan keluar pada satu outlet (tunggal). Sistem outlet pada DAS tersebut dapat diketahui melalui teknologi penginderaan jauh sebagai data primer dengan tambahan data sekunder.
Pemanfaatan teknik penginderaan jauh (dalam hal ini citra satelit maupun foto udara) untuk hidrologi pada dasarnya akan meringankan pekerjaan, biaya, dan tenaga yang dikeluarkan apabila dilakukan secara terestris. Namun demikian, perlu diperhatikan segala keterbatasan dari foto udara sendiri bila digunakan untuk menggali informasi parameter-parameter hidrologi, baik dalam hal karakteristik citra (misalnya: skala, jenis citra, dll) maupun dalam hal keterbatasan metodologinya. Oleh karena itu, pemanfaatan foto udara dan citra satelit untuk studi hidrologi biasanya menggunakan pendekatan-pendekatan untuk menjelaskan hubungan antara variabel-variabel lahan yang dapat dikaitkan dengan proses-proses hidrologi.

Sabtu, 17 September 2011

Keunggulan Citra Multispectral

Keunggulan citra multispectral dibandingkan citra spectrum tunggal (dan lebar) ialah adanya pembedaan obyek (penutup lahan) secara lebih baik, karena variasi pantulan pada satu spectrum yang relative sempit dapat di presentasikan. Sebagai contoh, pada citra pankomatik yang perekamanya dilakukan dalam julat yang lebar, (sekitar 0,5-0,73 µm), keceahan air merupakan rata-rata tingkat pantulan pada beberapa spectra yang lebi sempit (0,5-0,6; 0,6-0,7 µm), yang sebenarnya cukup berbeda satu sama lainya. Dgan demikian, kecerahan ini dapat menyerupai pantulan jenis-jenis tanah tertentu. Keunggulan lain dari citra multispektral ialah dimungkinkanya pembentukan citra komposit, dimana tiga saluran-saluran spectra (bands) masukan diberi warna merah, hijau dan biru, untuk membentuk satu citra tunggal yang bewarna. Satu citra komposit ini sudah mampu menyajikan variabilitas spectral seluruh saluran penyusunnya.

Senin, 30 Mei 2011

Intepretasi Kenampakan Fisiografi Berdasarkan Foto Udara


Pengenalan kenampakan relief permukaan bumi atau fisiografi merupakan landasan penting dalam kajian-kajian yang terkait dengan sumberdaya lahan. Pengamatan tentang aspek fisiografi menempati posisi yang penting dalam kajian-kajian geografi fisik (hidrologi, geomorfologi), geologi dan pertanian (tanah). Meskipun demikian observasi secara langsung dilapangan tidak selalu menghasilkan deskripsi yang akurat tentang relief medan yang dihadapi, karena terbatasnya jarak pandang manusia. Pengenalan kenampakan fisiografi kadang-kadang lebih efektif bila dilakukan dengan bantuan citra pengindraan jauh, karena citra mampu menampilkan susunan keruangan (spatial aragement) fenomena relief dengan lebih utuh dan kontekstual, artinya ada keterkaitan dengan fenomena lainya. Salah satu jenis citra yang sangat efektif dalam menyajikan kenampakan fisiografi adalah foto udara, karena dapat diamati secara streokopis.