google8e706b55941b4797.html More Than Geography: ekonomi
Tampilkan postingan dengan label ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ekonomi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 September 2011

Keberadaan Pedagang Kaki Lima

"Paper tentang masalah sosial untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Sosial Dasar semester 1 
Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada"


Seringkali kita jumpai masalah-masalah yang terkait dengan pedagang kakilima (PKL) di perkotaan Indonesia. Mereka berjualan di trotoar jalan, di taman-taman kota, di jembatan penyebrangan, bahkan di badan jalan. Pemerintah kota berulangkali menertibkan mereka yang ditengarai menjadi penyebab kemacetan lalu lintas ataupun merusak keindahan kota
Pedagang kaki lima atau yang sering disebut dengan PKL memilii makna yaitu pedagang yang mengelar dagangannya di tepi jalan yang lebarnya lima kaki (5 feet) dari trotoar atau tepi jalan. Selain itu terdapat pengertian lain tentang PKL yaitu orang yang melakukan kegiatan usaha berdagang dengan maksud memperoleh penghasilan yang sah, dan dilakukan secara tidak tetap dengan kemampuan yang terbatas, berlokasi di tempat atau pusat-pusat konsumen. Meskipun dengan pengertian beragam, istilah PKL tetap saja identik dengan pedagang yang membuka kiosnya dipinggir-pinggir jalanpenataannya berupa penertiban dan pemberdayaan PKL. Pedagang kaki lima memilih lokasi dan tempat-tempat strategis serta disekeliling tempat pendidikan (sekolah, kampus) dan seputar perkantoran, pertokoan karena mereka menyakini bahwa dilokasi itulah sumber penghasilan relatif mudah diperoleh. Sehingga adanya aspek larangan yang telah ditetapkan oleh pemerintah kota/kabupaten sering belum sepenuhnya dipahami. Bahkan adanya Perda Kota Yogyakarta No.26 Tahun 2002 tentang “DILARANG BERJUALAN DI TROTOAR/DAERAH MILIK JALAN”pun tidak dihiraukan. Itu sebabnya keberadaan PKL memerlukan penatan khusus tetapi penataan yang dimaksud bukan upaya mengapus keberadaan PKL itu sendiri,

Jumat, 06 Mei 2011

Nilai PentingTransportasi (Konsep Geografi Transportasi)

Fakta-fakta empiris secara substansial mengindikasikan bahwa nilai penting transportasi semakin berkembang. Kecenderungan-kecenderungan kontemporer yang dapat diidentifikasi terkait dengan hal tersebut antara lain:
1.       Pertumbuhan Kebutuhan. Selama abad XX, lebih dari segalanya, terlihat pertumbuhan nyata dari kebutuhan transportasi, baik menyangkut mobilitas penumpang maupun barang.. Pertumbuhan ini merupakan gabungan hasil dari jumlah penumpang dan muatan yang diangkut dalam jumlah yang sangat besar dengan panjangnya jarak yang ditempuh. Kecenderungan terkini menekankan pada proses pertumbuhan mobilitas yang sedang terjadi, dimana terdorong ke arah peningkatan jumlah perjalanan, termasuk banyaknya variasi moda transportasi yang melayani kebutuhan. 
2.       Penurunan Biaya. Meskipun beberapa moda transportasi sangat mahal untuk dimiliki dan diopersionalkan (misalnya kapal dan pesawat terbang), biaya-biaya per unit transportasi menurun secara signifikan dalam dekade terakhir. Hal ini menjadikan jarak yang lebih jauh memungkinkan untuk diatasi, maupun memanfaatkan lebih lanjut kelebihan komparatif dari ruang. Sebagai hasilnya, disamping harganya murah, pembagian aktivitas transportasi di dalam ekonomi di masa mendatang relatif tetap menurut waktu. 
3.       Ekspansi infrastruktur. Dua kecenderungan di atas secara nyata telah memperluas persyaratan infrastruktur transportasi, baik dari sisi kuantitatif maupun kualitatif.  Jalan, pelabuhan, bandara, fasilitas telekomunikasi, dan perpipaan sangat berkembang untuk melayani daerah-daerah baru dan menambah kapasitas jaringan yang telah ada. Infrastruktur transportasi merupakan komponen penggunaan lahan utama, khususnya di negara maju. 

Kamis, 07 April 2011

batik


            batik merupakan sebuah warisan budaya dan merupakan sebuah identitas bagi warga indonesia sendiri. perkembangan indutri batik diyogyakarta begitu besar apalagi setelah dinyatakan bahwa batik merupakan sebuah warisan budaya nasional. Disamping itu pengaruh yogyakarta sebagai kota pariwisata mendorong perkembangan industri batik menjadi sangat pesat. Berbagai indutri batik tumbuh dan berkembang seiring dengan permintaan yang tinggi terhadap produk batik ini. Berbagai inovasi dilakukan demi meingkatkan kualitas dan penjualan produk ini agar mampu bersaing dengan produk batik dari berbagai kota disekitarnya.